Foot Note/Kolom Opini

Tragedi Kanjuruhan, Boni Hargens Sebut Tak Boleh Tendensius Sudutkan Polri, Semua Pihak Harus Tanggung Jawab

JAKARTA – PERSBHAYANGKARA.ID

Tragedi Stadion Kanjuruhan Kabupaten Malang yang menewaskan 125 suporter Aremania tidak bisa semata-mata menyalahkan satu pihak, terlebih menyudutkan institusi Polri. Pasalnya, tragedi berdarah itu merupakan kesalahan semua pihak.

Beberapa fakta yang terjadi di lapangan,
• Panpel mencetak tiket melebihi kapasitas, dimana kapasitas Stadion hanya 38.000 namun Panpel mencetak 42.000 sekian. Sebelumnya Kepolisian juga telah memberi arahan Panpel untuk mencetak tiket dibawah kapasitas, karena belum terhitung juga total manusia di dalam Stadion ketika ada Petugas pengamanan.

• PT. LIB abaikan saran Polres Malang untuk menyelenggarakan pertandingan pada pukul 15.30 WIB, sehingga tetap digelar pada pukul 20.00 WIB.

• Penonton invasi lapangan sekitar 3.000 orang setelah laga selesai dan melakukan protes dan pemukulan terhadap pemain, bahkan juga memukul petugas, serta merusak fasilitas Stadion.

• Karena itu, Polisi menembak gas air mata kearah penonton untuk membubarkan masa.

• Pintu keluar Stadion terkunci, sehingga supporter berdesak-desakan mencari jalan keluar. Namun belum diketahui siapa panitia penyelenggara yang membawa kunci.

• Apakah Polisi melanggar aturan FIFA ? Aturan nomor 19 FIFA disebutkan sebagai alasan tidak boleh ada alat crowd control, hanya berlaku untuk Steward atau seseorang yang diperbantukan untuk Steward. Dan pada pasal 9 & 10 juga mewajibkan adanya contingency & emergency plan untuk pengamanan kalau terjadi kerusuhan.

• Apakah Stadion Kanjuruhan sudah standar keamanan FIFA ? aturan FIFA merupakan lembaga sepakbola dunia, turunannya adalah peraturan PSSI. Dan peraturan tersebut hanya berlaku hanya untuk pertandingan internasional yang diselenggarakan dan diregulasi oleh FIFA

Pendiri LPI dan analisis politik Boni Hargens pada 3 Oktober di Jakarta mengatakan, peristiwa Kanjuruhan merupakan tanggung jawab semua pihak. Ia meminta publik tidak tendensius menyudutkan pihak tertentu dalam insiden tersebut.

“Kasus di Stadion Kanjuruhan Malang itu kesalahan semua pihak. Maka, semua pihak harus sama-sama bertanggung jawab, tanpa harus saling menyalahkan,” kata Boni kepada wartawan di Jakarta, Senin (3/10/2022).

Diketahui bersama, pada Sabtu (1/10/2022), terjadi kericuhan usai pertandingan sepak bola antara Arema melawan Persebaya di Stadion Kanjuruhan, Malang, Jawa Timur. Peristiwa itu bermula dari pendukung Arema yang tidak puas dengan kekalahan tim kesayangannya, kemudian mereka masuk ke tengah lapangan untuk melakukan protes dan bahkan pemukulan terhadap pemain.

Saat itu, Polisi kemudian berusaha menenangkan masa dan mengamankan pemain serta pihak manajemen. Namun karena tidak kunjung kondusif dan masa semakin brutal, Polisi pun melepaskan gas air mata, sehingga penonton berdesakan di pintu keluar.

Akibat berdesakan dan pengapnya udara, terlebih banyak sekali yang bahkan terinjak sesama supporter, dikonfirmasi ada 125 orang meninggal dunia di rumah sakit setelah mendapat perawatan, ada juga yang meninggal di lokasi. Dilaporkan pula ada ratusan luka-luka.

Diwaktu yang sama, situasi diluar Stadion Kanjuruhan sangat tidak kondusif. Adapun pemain Persebaya yang saat itu diamankan mengendarai Baraccuda (Kendaraan Taktis Brimob) dilempari batu oleh masa, bahkan akses keluar Stadion menuju jalan raya juga penuh pagar pembatas dan kayu yang dirusak dan dibakar oleh masa. Masapun juga melakukan pelemparan batu dan pemukulan terhadap petugas.

Tak hanya itu, dilaporkan juga ada 12 mobil yang dirusak massa. 2 milik pribadi, dan 10 kendaran dinas Kepolisian yang 3 diantaranya dibakar didepan Gapura masuk Stadion Kanjuruhan. Atas hal ini petugas berusaha memukul mundur masa untuk menghentikan tindakan anarkis yang merusak segala yang ada disekitar supaya pemain Persebaya bisa keluar dari Area Stadion.

Terkait itu, Boni mengatakan, penggunaan gas air mata dibolehkan oleh Undang-Undang dalam situasi darurat. Yang dilarang FIFA, tutur dia, adalah dalam kondisi umum.
“Situasi keributan di Stadion Malang itu masuk kategori situasi darurat. Jadi menyalahkan Polri sama sekali tidak bijak dan salah sasaran,” ujar Direktur Eksekutif Lembaga Pemilih Indonesia ini.

Boni kemudian menjelaskan Pasal 9 dan 10 aturan FIFA terkait pengendalian keributan saat pertandingan sepak bola. “ICCPR kovenan internasional juga mengatur hal itu bahwa Polisi boleh menggunakan senjata dalam situasi darurat,” ucap Boni.

Sebelumnya, Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo mengungkapkan, tim telah melakukan investigasi terkait dengan tragedi Kanjuruhan. Tim telah mengidentifikasi korban meninggal dunia dari 129 menjadi 125 orang.

Kapolri juga menyampaikan duka cita mendalam atas meninggalnya Aremania tersebut. Ia pun memastikan akan mengusut kasus tersebut hingga tuntas.
“Sesuai dengan arahan Presiden, karena begitu banyaknya yang meninggal dunia, kami bersama-sama tim akan melaksanakan pengusutan,” kata Kapolri. “(Khususnya) terkait dengan proses penyelenggaraan dan pengamanan, sekaligus tentunya investigasi terkait peristiwa terjadi.” pungkasnya.
(DW). Sulton

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Berita Terbaru

To Top