Liputan Lintas Nasional

Tim PPNS Latih UMKM Pentol Gilaaa Cara Penggunaan APAR

SURABAYA – persbhayangkara.id JAWA TIMUR

Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) tidak hanya perlu diterapkan oleh perusahaan besar atau sektor dengan potensi bahaya tinggi seperti konstruksi dan pertambangan, namun juga oleh Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM).

Kebakaran merupakan salah satu jenis kecelakaan kerja yang dapat terjadi di semua sektor industri. Hal tersebut didukung oleh fakta bahwa jumlah kejadian kebakaran di Surabaya meningkat rata-rata 46,5% dari tahun 2010 hingga 2014 (BPS, 2021). Kurangnya wawasan pelaku usaha terhadap faktor bahaya industri menjadi penyebab minimnya penerapan budaya K3.
 
PPNS yang memiliki prodi D4 Teknik Keselamatan Kerja tergugah untuk memberikan edukasi tentang potensi penyebab kebakaran dan pelatihan pemadaman kebakaran pada industri.

Tim Pengabdian Masyarakat (Pengmas) yang beranggotakan dosen PPNS dan mahasiswa prodi Teknik K3 memberikan pelatihan kepada salah satu UMKM di Surabaya yakni Pentol Gilaaa terkait penempatan dan penggunaan apar yang benar.

“Di rumah produksi Pentol Gilaaa memiliki beberapa peralatan menimbulkan potensi bahaya, seperi mesin giling daging, kompor untuk memasak dan ruang pendingin untuk menyimpan produk beku (frozen).

“Sehingga diperlukan desain peletakan Alat Pemadam Api Ringan (APAR) beserta pelatihan penggunaanya,” papar Yusuf, salah satu anggota tim pengabdian masyarakat APAR yang diberikan ke UMKM Pentol Gilaaa berisi tepung kimia kering yang cocok untuk digunakan memadamkan api kebakaran pada kelas A, B, dan C sesuai kajian potensi bahaya pada gedung produksi UMKM tersebut. Sabtu, (18/12/2021).

Giat pelatihan cara penggunaaan APAR oleh Tim Pengmas PPNS pada UMKM Pentol Gilaaa

Hal tersebut didukung oleh fakta bahwa kejadian kebakaran 28% penyebab kebakaran tahun 2020 di gedung industri Kota Bandung disebabkan oleh penggunaan kompor dan instalasi kelistrikan (BPS, 2021). APAR dapat digunakan pada awal mula terjadinya kebakaran yaitu saat 3 menit pertama api terbentuk. Peletakan masing-masing APAR maksimal berjarak 15 meter agar mudah dijangkau oleh pekerja saat terjadi keadaan darurat.  

Pada pelatihan ini para peserta yaitu pekerja dari UMKM pentol gilaaa tidak hanya dibekali teori terkait penyebab kebakaran serta pemadaman api, tetapi juga diajak untuk mempraktekkan penggunaan APAR. Beberapa hal yang harus diperhatikan pada saat penggunaan APAR adalah kondisi APAR serta arah angin dan posisi pemadam.

“Masing-masing peserta harus praktek menggunakan APAR untuk memadamkan api, apabila suatu saat ada insiden kebakaran mereka dapat dengan sigap memadamkan api tersebut,” terang Erlan.

Pentol Gilaaa menyambut baik kegiatan ini, semua peserta antusias untuk mempraktekkan penggunaan APAR.

“Kegiatan ini tidak hanya bermanfaat untuk kegiatan produksi, namun ilmunya juga bermanfaat dalam kehidupan sehari-hari”, sambung Sahlah, salah satu team leader di Pentol Gilaaa.

Diharapkan ke depan, PPNS dapat memberikan pelatihan sejenis untuk UMKM lain sehingga dapat meminimalkan resiko bahaya kebakaran yang sering terjadi pada industri usaha kecil. (ari)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Berita Terbaru

To Top