Kronik polri

Celoteh Netizen, Menghilangkan Status Quo Kasus Astrid dan Lael !

Penulis: Bripka Simeon Sion

KUPANG – persbhayangkara.id NTT

Sejak ditemukannya dua jenazah ibu dan anak tanpa identitias saat penggalian pipa spam Bendungan Kali Dendeng di Kelurahan Penkase Kecamatan Alak Kota Kupang tanggal 30 Oktober 2021 lalu, nama Astrid dan Lael ramai dijagat maya. Kedua jenazah yang berhasil diidentifikasi bernama lengkap Astri Evita Suprini Manafe (30) dan Lael Maccabe (1) ini ditemukan dalam keadaan membusuk dalam kantong sampah setelah sekitar tiga bulan dikuburkan dalam tanah setelah dibunuh secara sadis.

Warga Kota Kupang sempat geger dalam beberapa pekan saat kedua jenazah tersebut tidak diketahui identitasnya dan pihak keluarga belum ada yang mengonfimasi pihak Kepolisian setempat.
Namun akhirnya semua bisa terjawab setelah dokter kepolisian berhasil mencocokan dna korban dengan pihak keluarga dan memberi kepastian kedua jenazah tersebut adalah jenazah ibu dan anak Astrid dan Lael. Kasuspun bertambah terang setelah Randy Badjideh yang adalah orang terdekat menyerahkan diri tanpa syarat kepada pihak kepolisian tanggal 1 -Desember -2021 dan di tetapkan sebagai tersangka pada tanggal 2-Desember 2021.
Kasus ini begitu viral dan menyita simpati publik, termasuk Komisi Perlindungan Perempuan dan Anak. Para pengacara kondang pun turun tangga menyaksikan dari dekat runutan kasus ini perlahan-lahan dibongkar.

Kasus Astrid dan Lael memang terbilang kasus yang enak dibedah dan diikuti, lantaran berawal dari Cinta Segitiga yang berujung pada kematian. Hujatan demi hujatan berbaur emosi membara para netizen kepada pelaku tak pernah terlewatkan dari bilangan waktu. Demikianpun isteri pelaku Ira.

Dari kesekian banyaknya hujatan, ada netizen yang malah menyudutkan aparat Kepolisian yang melakukan penyidikan kasus ini. Kapolda NTT Irjen Pol Drs. H. Lotharia Latief, SH, M.Hum pun ikut diseret dalam bingkai pikiran sesat netizen, meski berkali-kali beliau meminta publik untuk tetap sabar menunggu hasil penyidikan Polri. Namun harapan berbalas air tuba, masyarakat malah menyerang Kapolda NTT sejadi-jadinya. Sebut saja beberapa hari yang lalu, tersebar meme yang menunjukkan Kapolda NTT sedang mendatangi sel tahanan tempat pelaku Randy ditahan oleh Bidhumas Polda NTT. Berbagai komen dari meme tersebut tentu amat mencederai perasaan Jenderal berbintang dua ini.

Betapa tidak kata-kata yang tersembur melampaui batas etika dan batasan norma. Disaat penulis menempatkan diri sebagai anaknya, betapa miris hati membaca komen atas meme tersebut. Orang tua yang dipercayakan menjadi pengayom dan pelindung serta pelayan kita ditanah ini mendapat hujatan yang tak setimpal. Tak pernah tahu apa yang beliau perbuat tapi membuat narasi yang mencoreng nama baiknya. Kita sudah lupa akan budaya ketimuran kita yang menjunjung kesantunan berbahasa kita. Kita lupa untuk menghargai orang yang lebih tua dari kita. Kita lupa bersyukur Tuhan menitipkan kepada kita pimpinan yang begitu baik, tak kenal lelah membaktikan diri demi menjamin keamanan jasmania dan rohania kita. Kita lupa berterimaksih atas segala dedikasinya selama menjadi Kapolda di tanah Flobamora ini. Secara pribadi selama menjabat ia tak pernah melakukan perbuatan yang manyakiti kita. Publik pasti tahu, kenapa kita aman-aman saja saat ini. Seribu kebaikan yang dilakukannya tak pantas dibalas dengan kata-kata kotor nan keji.

Kasus Astrid dan Lael bila dicermati masih dalam tahapan penyidikan. Butuh proses dan waktu menuju terkuaknya sebuah tabir yang masih belum tersingkap. Pengakuan tersangka Randy tidak serta merta membawa penyidik berhalusinasi dalam angan. Penyidik melakukan penyidikan perkara atas dasar hukum, bukan asumsi belaka. Ada kausalita setiap alur peristiwanya. Kenapa kita tidak mempercayakan penanganan kasus ini pada penyidik Polri sesuai perintah undang-undang? Ocehan kita hanya merusak status quo kasus Astrid dan Lael. Kita telah menggiring penyidik untuk mengikuti arah pikiran kita. Tak ada kewenangan bagi publik untuk ramai-ramai membedah kasus ini. Kita tidak memiliki landasan hukum untuk mencampuri urusan penyidikan kasus ini.

Untuk itu mari kita kembali berbenah diri, stop menghujat Kapolda NTT. Stop menyalahkan beliau. Bila kita memiliki kemampuan, dukung dan sumbangkan pikiran kita membantu tugas kepolisian, biar cepat tertangani dengan professional.
Sedikit berkaca pada masyarakat Finlandia, bahwa berdasarkan data dari berbagai sumber, negara yang paling bahagia didunia adalah negara Finlandia. Ratio kepolisian di negara ini adalah 149 per seratus ribu penduduk. Meski terbilang paling sedikit, warga negara ini memiliki tingkat kepercayaan yang tinggi pada polisinya yaitu 85 persen. Masyarakatnya pun bisa menjadi polisi bagi dirinya sendiri. Ia tidak korupsi, menjauhi perbuatan jahat dan sibuk mengurus dirinya sendiri dengan belajar. Kendati saja kasus Astrid dan Lael dipercayakan sepenuhnya kepada penyidik, niscaya status quonya tidak akan berubah. Penyidikpun akan dengan leluasa mengolahnya menjadi bahan keterangan yang bisa dipertanggungjawabkan secara hukum.

Perlu kita sadari bahwa di abad 21 ini ancaman terhadap keselamatan jiwa amat bervariasi, berkelindan dengan kompleksnya isu politik sosial dan ekonomi yang melibatkan kemajuan teknologi. Polisi sebagai penjaga keamanan dan ketertiban wajib lebih peka dan sensitif serta lebih terbuka terhadap opsi pendekatan demi melindungi, mengayomi dan melayai masyarakat. Singkatnya polisi harus lebih responsif terhadap kebutuhan masyarakat. Polisi Yang Presisi yang dicanangkan Kapolri Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo,M.Si adalah konsep Polisi modern yang hampir sama dengan prinsip yang diajarkan Sir Robert Peel, yang kemudian disebut sebagai Bapak Polisi Modern. Tak perlu masyarakat merasa khawatir akan kinerja kepolisian ini.

Ada beberapa kasus belakangan ini yang mencederai institusi kepolisian, itu semata-mata Tindakan pribadi yang melenceng dari moral dan etika kepolisian. Dan Polri secara terbuka memberikan sanksi tegas yang setimpal dengan perbuatannya. Polri tidak kebal hukum, meski Polri adalah wajah hukum di negeri ini.
Dipenghujung kata, penulis turut berbelasungkawa atas kematian Astrid dan Lael, semoga di keabadian keduanya boleh berbahagia dan untuk keluarga yang ditinggalkan, mari panjatkan doa kepada sang Tuhan agar diberi penghiburan.

(Yustaf Siki)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Berita Terbaru

To Top