Liputan Sosial Masyarakat

Sidang PS Antara PT Kima Vs IRT Rohani, Penjual Tidak Mampu Tunjuk Batas Lokasi?

MAKASSAR – persbhayangkara.id SULAWESI SELATAN

Perkara sengketa hak antara PT Kawasan Industri Makassar (KIMA) Versus Rohani Cs (dan kawan-kawan) dengan Nomor: 130/Pdt.G/ 2021/ PN.Mks, terus bergulir di Pengadilan Negeri Makassar.

Sidang hari ini Jumat (27/8/2021) dengan agenda sidang PS (Peninjauan Setempat) di obyek sengketa, Jl KIMA 10, Kel.Kappasa Raya, Kec Tamalanrea, Makassar. Diketahui berlangsung lancar dikawal petugas dari Polsek Tamalanrea Makassar dipimpin Wakapolsek AKP Mukhtar.

Ketua Tim penasehat hukum Ibu Rohani Cs, Budi Minzathu, disela-sela Sidang PS, kepada sejumlah awak media mengatakan, “Hari ini jadi terang benderang bahwa diduga surat Rincik milik Rahmatiah selaku penjual adalah Rincik palsu.”

“Bagaimana mungkin orang yang mengaku menguasai secara turun-temurun ternyata hari ini tidak mampu menunjuk batas tanahnya. Sekali lagi
dengan fakta ini, maka patut diduga Rincik palsu yang pergunakan penjual, Hj Rahmatiah,” tegas Budi Minzathu.

Sementara itu, di tempat yang sama, ibu Rohani, mengatakan, “Sangat wajar kalau, Haji Uddin Daeng Betta yang mewakili istrinya Hj Rahmatiah, tidak bisa menunjuk batas-batas tanah, karena baru pertama kali Dia injakan kakinya dilokasi ini.”

Ketika ditanya Rahmatiah punya surat keterangan garapan? Rohani tegas mengatakan, “Sesuai pengakuan Haji Uddin Daeng Betta waktu mediasi di Kantor Camat Tamalanrea beberapa waktu lalu bahwa jangankan menggarap, letak lokasi saja tidak tau, hanya ditunjukan oleh mertuanya bahwa itu bagianmu.”

“Saya punya semua rekaman pembicaraan Haji Uddin Daeng Betta waktu di kantor camat Tamalanrea, InsyaAllah kalau yang mulia pak hakim memerintakan, maka saya akan perdengarkan rekaman tersebut dalam sidang nanti,” tegas Rohani.

Rohani menambahkan, “Ada dua alasan sehingga saya berani mengatakan Rahmatiah diduga telah memberikan keterangan palsu di hadapan pejabat pemerintah.’

Alasan Pertama, “Suaminya Haji Uddin Betta mengaku waktu mediasi di hadapan Kasi Datun Kejaksaan Negeri Makassar Adnan Hamzah dan Camat Tamalanrea bahwa Dia tidak perna menggarap.”

Alasan Kedua, “Sesuai Surat Keterangan nomor: 593/ 03/ I /2009, yang ditandatangani Lurah Kapasa, H.A.Patawari Mappanganro, di Makassar pada tanggal 25 Nopember 2008, bahwa Rahmatiah lahir pada tanggal 17 Juli 1970 dan mulai menggarap 1980-an.”

Dengan nada tanya Rohani mengatakan, “Apa bisa anak perempuan umur 10 tahun sudah menggarap sendiri lahan?

“Bagian lain dalam surat keterangan tersebut, tertulis dalam buku Rincik tidak terdaptar,” tutup Rohani.

Terpisah, salah satu tim kuasa hukum Rohani Cs, Arief, mengatakan, “Apa yang kami sampaikan dalam replik bahwa Gugatan penggugat Eror In Persona terbukti pada Sidang PS ini.”

“Fakta membuktikan, tergugat II, Abd Rasyid, tergugat III Daeng Rani, dan tergugat IV Ramli tidak lagi menguasai dan tidak tinggal lagi diatas objek sengketa,” beber Arief.

“Bukan hanya itu, kami juga sampaikan dalam replik tentang Gugatan penggugat kurang pihak, dan itu juga terbukti pada sidang PS ini,” ungkap Arief.

Menurut Arief, ‘Fakta lapangan menunjukan di dalam objek sengketa saat ini dikuasai oleh beberapa orang yakini, Mega Wahyuni Syamsul, Krisdianti, Abdul Rahim, dan Febri Nurtanio.”

“Bahkan di dalam objek sengketa saat ini terdapat empat rumah yang berdiri dari tiga rumah permanen dan satu rumah semi permanen,” tutupnya.

Terpisah, saat media ini ingin konfirmasi tergugat 8 ternyata sudah tidak ditempat lagi, mengingat azan sudah berkumandang. (Andi Akbar Raja/M Said Welikin)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Berita Terbaru

To Top