Liputan Lintas Nasional

Pakar, Angkat Bicara Soal Kerugian Petani Takalar Milyaran Rupiah (2)

TAKALAR – persbhayangkara.id SULAWESI SELATAN

Petani lombok dan jagung di Desa Paddinging dan Desa Tonasa Kecamatan Sanrobone Kabupaten Takalar tidak tau harus berbuat apa untuk memperkecil angka kerugian yang bakal mereka terima.

Bagaimana sesungguhnya sehingga musibah ini terjadi, apakah faktor alam? Atau human eror (kesalahan manusia red)? Dan apakah sudah hadir pemerintah?

Sebagaimana telah diwartakan, wartawan Pers Bhayangkara akan menyelisik permasalahan yang dialami para petani, dan akan menyampaikan kepada pembaca yang budiman.

Pada bagian kedua ini, tepat matahari di atas ubun-ubun Selasa, 20 Juli 2021, saya tiba di Desa Paddinging. Sebelum menemui para petani Desa Tonasa, telpon dari salah satu anggota DPRD Takalar dari Partai Hanura, Haji Bahar Bani. Untuk menikmati hidangan konro di salah satu rumah warga Paddinging di Jl Poros Sanrobone-Galesong.

Rupanya selain Haji Bahar Bani, dalam rumah tersebut ada beberapa tokoh pemudah dan juga mantan Kades Paddinging, Muhammad Darwis Daeng Nawang.

Muhammad Darwis Daeng Nawang, yang karib disapa Daeng Nawang ini mengatakan,” Tolong diwartakan permasalahan yang dialami petani saat ini.

Dia pun menunjuk seorang pemuda agar setelah menikmati hidangan konro, membantu mengantar wartawan Pers Bhayangkara melihat langsung kebun lombok dan jagung yang tergenang air dan menemui petani- petaninya.

Setelah menyampaikan itu, Daeng Nawang pun pamit pulang pulang untuk suatu urusan di Kota Pattallassang Takalar.

Petani jagung, Sahabuddin Daeng Jarre, warga desa Tonasa saat ditemui di pinggir kebun jagung miliknya di Jl Poros Sanrobone-Galesong, Selasa (20/7/2021), ditemani seorang petani lombok Jufri Daeng Sila.

Jarre, sapaan karib, Sahabuddin Daeng Jarre menegaskan,” Bertahun-tahun kami sangat butuh air, tetapi saluran tersier ini kering-kerontang. Kini kami sudah terbiasa dengan kondisi tersebut, sehingga kami tidak sudih dengan kehadiran air, justru air datang dan merusak.”

Jarre menambahkan,” Air cuma datang merusak buat apa datang, kalau begini terus, jhasil panen jagung yang lebih 10 ton dengan harga saat ini antara Rp. 3500-3800/ per-Kg bakal amblas ditelan bumi.”

Menurut Jarre, yang mengaku tiap musim tanam biasanya menanam 33 Kg jagung ini meminta ketegasan dan kepastian dari pemerintah soal kehadiran air ini.

“Jika pemerintah bisa memastikan kehadiran (ketersediaan) air maka petani lombok dan jagung bisa beralih menam padi,” imbuhnya.

Menjawab pertanyaan Pers Bhayangkara, Jarre menegaskan “Banyak jagung rebah dan pertumbuhannya mulai terganggu karena adanya kerusakan jaringan saluran tersier, bukan karena faktor hujan. Pengalaman selama ini walau hujan seharian pun, air tidak tergenang.

Senada dengan Jarre, seorang petani lombok Jufri Daeng Sila, berharap adanya kepastian soal air ini, soalnya jangan sampai kerugian berulang karena adanya kerusakan pada jaringan (saluran) pengairan.

Jufri Sila yang mengaku satu dusun dengan Jarre yakni dusun Tonasa, desa Tonasa, mengungkapkan dirinya menanam lombok hampir 10 bungkus per-musim tanam. Kalau hasil sekali panen kurang lebih Rp40 juta.

Di tempat yang sama Anggota DPRD Takalar Haji Bahar Bani, mengatakan, “Saya ini sahabat para petani, sehingga bila mereka mengalami kesusahan pasti  saya ikut  meresakan kesusahan itu.”

“Olehnya itu, saya sebagai pribadi maupun sebagai wakil rakyat berharap agar Dinas terkait baik Kabupaten Takalar maupun Gowa agar secepatnya duduk bersama membicarakan sekaligus memperbaiki saluran tersier ini,” tegas Haji Bahar Bani.

Haji Bahar Bani, yang karib disapa Haji Baba ini menegaskan,” Mengapa saya menyebut Pemkab Gowa, karena saluran tersier ini adalah daerah irigasi Bisua yang melintasi dua Kabupaten yakni Kab Gowa dan Takalar.”

Sebelum Pers Bhayangkara pamit pulang, Jarre dan Jufri Sila mengantar saya melihat kebun lombok milik salah satu petani lombok di Tonasa Baso Nanring yang tanaman lombok miliknya tidak ada yang tersisah karena tergenang air.

“Padahal tiap kali panen Baso Nanring mendapatkan hasil Rp100-an juta,” ungkap Jarre dan Amini Jufri Sila.

Terpisah Prof DR Muhadar, melalui WhatsApp mengirim pesan tertulis, Selasa (20/7/2021) mempertanyakan tanggung jawab Pemerintah Daerah, “Bagaimana tanggungjawab Pemda atas kerugian tetsebut, diharapkan peduli dan bertanggungjawab karena pemerintah harus begitu, mengurusi Rakyat agar sejahtera. Baca Trilogi Pembangunan.”

“Bagaimana tanggungjawab Pemda atas kerugian tetsebut, diharapkan peduli dan bertanggungjawab karena pemerinth harus begitu, mengurusi Rakyat agar sejahtera. Baca Trilogi Pembangunan,” tulis Kriminolog Unhas Prof Muhadar. (M.Said Welikin/Andi Akbar Raja)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Berita Terbaru

To Top