Kronik polri

Saluran Tersier Rusak, Petani Takalar Bakal Rugi Milyaran Rupiah

TAKALAR – persbhayangkara.id SULAWESI SEATAN

Beberapa pekan terakhir, ceritera pilu petani di desa Paddinging dan desa Tonasa Kecamatan Sanrobone Kabupaten Takalar Propinsi Sulawesi Selatan, yang ramai diperbincangkan di Medsos, tentang tanaman jagung dan lombok siap panen yang nilainya diperkirakan milyaran rupiah, bakal amblas.

Bagaimana sehingga kejadian ini terjadi, apakah karena faktor alam atau human eror(kesalahan manusia red)? Dan apakah pemerintah sudah hadir?

Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas wartawan Persbhayangkara berupaya menyelisik permasalahan ini, dan akan menyajikan ke pembaca yang budiman dalam tiga bagian.

Senin 19 Juli 2021, kala matahari berayun, saya tiba di desa Paddinging, dan bertemu dengan beberapa petani yang bila diperhatikan raut muka nampak resah dan gelisah menyaksikan tanaman lombok dan jagung yang sebentar lagi akan panen namun mulai layu karena air yang melimpah.

Mereka tak bisa berbuat apa-apa selain pasrah karena di luar kemampuan.
Salah satu petani jagung Syafruddin Daeng Emba mengatakan,” Saya ini heran karena puluhan tahun saluran air ini kering, sekarang mendadak berair. Karena saluran retak dan pecah, sehingga air mengalir masuk dalam areal tanaman jagung, akibatnya pertumbuhan jagung terganggu.”

Ketika disinggung berapa kira-kira nilai kerugian dan apa harapannya, Syafruddin Daeng Emba, terlihat tunduk sejenak kemudian, dengan suara yang nyaris tak terdengar mengatakan, ‘Kalau boleh berharap, kembali modal saja, Alhamdulillah. Karena, mulai dari bibit, pupuk dan racun rumput semuanya dipinjam.”

Dia, menambahkan,” Soal berapa kira-kira kerugian, saya hanya bisa sampaikan bahwa saya tanam, tujuh kilogram jagung, dan berdasarkan pengalaman selama ini, hasilnya tujuh ton, sementara saat ini harga satu kilogram jagung Rp3.800, bisa hitung sendiri berapa total harga.

“Dan perlu diketahui kondisi ini bukan cuma saya saja yang alami, akan tetapi bisa dipastikan hampir semua petani di dua desa yakni Paddinging dan Tonasa,” ucap Safruddin Emba.

Petani lombok Baso Daeng Limpo, mengatakan,” Pada saat kami membutuhkan, air tidak ada. Ketika kami tidak butuh air, justru air datang dan merusak.”

Baso Daeng Limpo punya harapan yang sama dengan Daeng Emba, kiranya ada keajaiban sehingga bisa kembali modal.

“Perkiraan kerugian yang muncul bila kondisi ini tak bisa diatasi, nilainya di atas Rp50juta,” ucap Baso Daeng Limpo.

Menjawab pertanyaan Persbhayangkara lelaki yang kira-kira umurnya di atas 50-an tahun ini, berjalan di atas pematang dengan tertatih-tatih karena masalah Azam urat, Baso Daeng Limpo menjawab singkat, ‘Tolong pak bupati atau pak gubernur bantu kami, perbaiki saluran air ini.”

Tetangga Baso Daeng Limpo yakni Maksut Daeng Narang, dengan nada lirih mengatakan,” Sekarang ini saya tanam terong, karena tanaman lombok saya semuah mati sebelum menghasilkan (panen).”

“Saya hanya berharap ada keajaiban sehingga pohon terong bisa menghasilkan, karena melihat kondisi air seperti ini mustahil terong bisa bertahan hidup,” imbuhnya.

Daeng Nawa yang tinggal dekat pintu air saluran tersiar daerah irigasi Bisua Kabupaten Gowa-Takalar ini, menegaskan,” Sudah puluhan tahun jaringan saluran tersier ini kering,  pintu airnya pun rusak. Sekarang mendadak difungsikan jelas jadi musibah.”

Pada saat wartawan Persbhayangkara hendak meninggalkan lokasi, lelaki ceking yang belekangan diketahui bernama, Mamin Daeng Sitaba.

Yang mengantar saya, untuk melihat langsung saluran tersier yang rusak parah dan pintu air sekunder yang juga rusak, dengan lirih mengatakan, “Tolong pak wartawan bantu perjuangkan agar saluran air ini secepatnya diperbaiki.”(M. Said/Andi Akbar)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Berita Terbaru

To Top