Foot Note/Kolom Opini

Kedepankan Semangat “Persaudaraan” Menuju Pilkada Damai

MAKASSAR – persbhayangkara.id SULAWESI SELATAN

Oleh: Dr.H.Abdul Wahid, MA
(Muballigh & Akademisi Makassar)

Saat ini umat Islam tengah berada diawal bulan Rabiul Awal 1442 H, dimana bulan ini merupakan waktu yang dipilih oleh Allah sebagai tempat lahirnya sosok manusia teladan yakni Rasulullah saw. empat belas abad yang silam.

Sejarah mencatat kiprah politik Nabi saw. dimulai dari proses hijrah dari Makkah ke Madinah bersama sahabatnya, salah satu ikhtiar politik yang beliau lakukan kala itu ialah mula-mula “mempersaudarakan” kelompok Muhajirin Makkah dan Anshar Madinah, yang selama ini diketahui belum pernah terjadi, peristiwa yang agung ini kemudian diabadikan di dalam al-Qur’an surah al-Hasyr[59]:9.

Esensi dari peristiwa persaudaraan tersebut adalah didasari oleh adanya “saling mencintai; sehingga terhindar dari kebencian yang dapat berujung pada disharmonis dalam kehidupan mereka.

Di samping itu, apa yang dilakukan oleh Rasulullah saw. dalam mempersaudarakan kaum Muhajirin dan Anshar, karena beliau sangat sadar bahwa tantangan dakwah di masa yang akan datang sangat kompleks dan berat, sehingga memerlukan sinergitas dari semua sahabat baik dari kelompok Muhajirin maupun Anshar.

Begitu pentingnya semangat persaudaraan ini, sehingga Nabi saw. pernah berpesan, “Sesungguhnya seorang mukmin dengan mukmin lainnya seperti satu bangunan yang saling menguatkan satu sama lain”. (HR.Muslim).

Pesan historis tersebut, jika dihubungkan dalam konteks pelaksanaan Pilkada serentak tahun ini khususnya di kota Makassar, maka sejatinya seluruh kontestan dapat menjadikannya sebagai inspirasi dalam menghadirkan Pilkada damai, dengan lebih mengedepankan semangat “persaudaraan dibandingkan dengan persaingan dan kepentingan politik”.

Dengan semangat persaudaraan, maka para kontestan tidak akan saling menjatuhkan apa lagi menyakiti, walau diantara mereka terjadi persaingan untuk meyakinkan masyarakat demi meraih mandat untuk menahkodai kota Makassar lima tahun mendatang.

Kebutuhan masyarakat kota Makassar terhadap Pilkada damai saat ini semakin mendesak, karena situasi bangsa kita saat ini bisa dikategorikan sedang “sakit”, akibat dari pandemi COVID-19 yang hingga saat ini masih menjadi ancaman serius. Untuk itu, semua komponen bangsa harus tetap kompak dalam menjaga situasi yang aman di tengah masyarakat walau dalam perhelatan Pilkada sekali pun.

Ajang Pilkada ini harus dijadikan oleh para kontestan sebagai momentum untuk mengedukasi masyarakat secara maksimal bahwa; perbedaan pilihan politik bukanlah sesuatu yang tercela apa lagi dapat merusak nilai persaudaraan.

Justru sebaliknya perbedaan tersebut harus tetap dalam semangat saling menghormati dan menghargai yang diikat oleh spirit “persaudaraan sesama anak bangsa”, karena yang paling penting dalam sebuah kontestasi ialah terjaganya situasi kamtibmas di tengah  masyarakat.

Dalam konteks itulah, seluruh kontestan dan tim pendukung diharapkan dapat menghindari berbagai manuver politik yang dapat mengganggu kamtibmas di tengah masyarakat, semaksimal mungkin dapat menerapkan pola komunikasi yang santun yang dalam bahasa al-Qur’an disebut “Qaulan layyina”, sehingga potensi konflik akibat dari persaingan politik dapat diredam.

Hadirnya situasi yang aman di tengah masyarakat bukan hanya sekadar tanggungjawab Polri, melainkan tanggungjawab dari semua anak bangsa.

Oleh karena itu, spirit persaudaraan yang lebih dominan diantara para kontestan akan dapat berkontribusi untuk menghadirkan Pilkada yang aman dan damai, sebagaimana yang telah dicontohkan oleh Nabi saw. empat belas abad yang silam.

Jajaran Polri lebih khusus Polda Sulawesi Selatan sudah pasti akan netral dan berkerja secara profesional dalam mengawal perhelatan Pilkada serentak tahun ini, sebab posisi Polri diibaratkan “seperti wasit dalam sebuah pertandingan” untuk memastikan kelancaran dan keamanan seluruh tahapan Pilkada khususnya di kota Makassar, hingga penetapan pemenang Pilkada ke depan.

Polri tidak memiliki kepentingan  kepada siapa pun yang menjadi pemenang Pilkada, namun sesuai sumpahnya dalam Tri Brata, “Setiap anggota Polri akan berbakti kepada Nusa dan Bangsa dengan penuh ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa”. Untuk itu, Pilkada damai hanya bisa terwujud, apabila semua komponen bangsa khususnya para kontestan dan penyelenggara Pilkada dapat bersinergi dengan baik bersama dengan Polri. (Andi Akbar)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Berita Terbaru

To Top