Foot Note/Kolom Opini

Meukupi (Ngopi) Adalah Budaya Kental Bagi Masyarakat Aceh

ACEH – PERSBHAYANGKARA.ID

Meukupi (Ngopi) merupakan suatu budaya yang tidak bisa dipisahkan dari kalangan masyarakat Aceh, apalagi di era milenial ini.

Meukupi mengajarkan akan nilai ke-estetikaan berkawan, berekspresi serta menuturkan bahasa/berretorika. Sehingga dapat melahirkan sebuah identitas.

Sebagian ahli memandang identitas sebagai sesuatu yang baku dan tidak berubah.

Grert Hafstede adalah salah seorang ahli dalam kajian Culture dan Identity, ia meyakini bahwa hanya bangsa tertentu yang memiliki kebakuan identitas, berbeda halnya dengan teori Michel Foucault yang berargumen bahwa identitas bangsa itu bersifat fluid, (dapat berubah sesuai waktu dan tempat).

Banyak pro dan kontra pendapat perihal identitas suatu bangsa, namun lumrahnya suatu kajian ilmiah menyatakan sependapat jika Lingkungan mampu membentuk karakter seseorang maupun sebuah kelompok/masyarakat.

Contohnya Daerah yang mempunyai kepadatan aktivitas, akan menuntut masyarakat berperilaku express dan membentuk satu karakter.

Begitu pula Aceh, Provinsi bagian barat Indonesia yang memiliki karakter tertentu, menjadikannya berbeda dengan provinsi-provinsi lain yang ada di Indonesia.

Aceh, tidak hanya dilakap dengan nama Serambi Mekkah namun juga dirindu dengan sebutan Serambi kupi, daerah dengan seribu satu warung kopi yang tersebar diseluruh penjuru wilayah Aceh, Karena keistimewaan inilah menjadikan indikator Aceh adalah Kopi, dan Kopi adalah Aceh, begitu hangat dalam ingatan.

Pantas saja, Jika Jakarta disebut-sebut sebagai negeri seribu warteg, maka aceh menyandang lakap sebagai negeri seribu warkop. Di Aceh sendiri, warkop menjadi magnet bagi masyarakat, tidak hanya sebagai tempat menikmati kopi namun juga dijadikan tempat berkumpul, temu ramah, bersantai dan berbincang yang menjadi kebiasaan, lambat laun kebiasaan tersebut akan menghadirkan karakteristik yang membentuk bagian identitas diri dari masyarakat disatu daerah sehingga masyarakat Aceh pun diidentikkan dengan penikmat kopi.

Pada dasarnya karakter seseorang mencerminkan identitas suatu tempat, terbentuknya identitas seseorang karena pola pikir dan tingkah laku (sikap) yang dipengaruhi oleh faktor keluarga, pendidikan dan lingkungan.

Begitupun dengan perspektif masyarakat terhadap warung kopi, terkadang sering menimbrungkan penilaian negatif seperti tempatnya para pemalas dan pengangguran.

Beranjak dari bermacam perspektif negatif, seiring dengan berkembangnya zaman, warung kopi tidak hanya diminati oleh orang tua, namun sudah menjadi tempat favorit muda-mudi/mahasiswa sebagai tempat belajar juga tempat tongkrongan bersama relasi.

Karena diera revolusi 4.0, hampir semua warkop difasilitasi oleh jaringan wifi.

Dari ulasan diatas, inti pembahasan yang ingin penulis sampaikan bahwa budaya meukupi (ngopi) merupakan simbol kemegahan, maskulinitas dan nerotisme bagi Aceh, serta meukupi adalah hal penting dalam kehidupan masyarakat sebagai jati diri di daerah Aceh.

Sehingga tidaklah heran jika dari dulu hingga sekarang, kopi menjadi media dalam penjamuan tamu baik dirumah maupun diwarung serta menjadi pelepas penat bagi masyarakat terkhusus para aktivis yang dilanda gundah gulana akan kondisi negeri yang merumit.

Penulis: Muhammad Tazul, Kader HMI Cabang Sigli Aceh

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Berita Terbaru

To Top